Friday, December 6, 2013

Khema [Ratu Cantik yang menjadi siswi utama Sang Buddha]


Sama seperti Sang Buddha telah menunjuk 2 siswa utama, Y.A Sariputta dan Y.A Mogallana untuk Sangha Bhikkhu, Beliau juga menunjuk dua orang siswa utama wanita untuk Sangha Bhikkhuni. Mereka adalah Y.A Khema dan Y.A Uppalavanna
Khema adalah salah satu dari ratu-ratu cantik raja Bimbisara. Perubahan yang terjadi pad diri ratu Khema ini adalah kejadian yang jaran, dimana Sang Buddha menggunakan kekuatan batin Beliau untuk membuat perubahan di hati orang lain. Sang Buddha tidak pernah menggunakan kekuatan Beliau untuk mengendalikan emosi/perasaan orang lain, melainkan semata-mata untuk membangkitkan pengeritan dan memunculkan kebijaksanaan.
Khema cantik bagaikan bulan purnama sepoi-sepoi, Khema memutuskan untuk mengunjungi vihara yang dibangun oleh raja Bimbisara untuk Sang Buddha di Hutan bambu. Tupia-tupai berlarian di pohon-pohon buah yang membuat bayang-bayang di atas rumput. Telaga-telaga ditutupi oleh teratai-teratai dan bau wangi jasmin berhembus di udara.
Kemudian Khema tertarik dengan suara yang dalam dan jernih yang datang dari ruang pembabaran Dhamma. Ini tidak seperti apa yang pernah a dengar sebelumnya. Suara ini terdengar lebih indah dan merdu daripada nyanyian burung-burung pada waktu menjelang pagi. Suara itu begitu hangat, tenang, serta penuh cinta kasih dan perhatian. Kata-kata itu adalah kata-kata yang mengandung kebijaksanaan.
Bagaikan seekor lebah yang tertarik pada sekuntum bunga, Khema bergerak menuju ke ruang di mana Sang Buddha sedang memberikan uraian Dhamma.Karena ia tidak ingin Sang Buddha mengenalinya maka ia menurunkan kerudung kepalanya hingga menutupi wajahnya dan duduk di belakangan ruangan itu. Apa yang tidak ia ketahui bahwa Sang Buddha mengetahui siapa dia dan apa yang sedang ia pikirkan.
Dengan kekuatan batinNya, Sang Buddha menciptakan suatu perwujudan seorang gadis mdua yang amat cantik, berusia sekitar 16 tahun, sedang berdiri di samping Beliau dan mengipasi Beliau. Khema menghela nafas keheranan pada kecantikan gadis itu dan menatapi gadis itu dengan penuh kekaguman.
“Oh, lihat itu bentuk hidungnya yang indah, bibirnya, lengan dan jari-jarinya”, pikir Khema. “Dengan kulitnya yang sempurna, dia tampak seperti bunga yang mekar merekah di musim semi. Dia jauh lebih cantik daripada siapapun yang pernah saya lihat, dan juga, dia jauh lebih cantik daripada saya”.
Selang beberapa saat, Khema berpikir bahwa matanya sedang menipunya. Apakah dia melihat bahwa gadis mdua itu berubah menjadi tua? Ya, benar. Kecantikan itu memudar dari perwujudannya yang cantik. Dengan cepatnya kerutan-kerutan muncul pada wajahnya, dan senyum pada bibirnya yang seperti bunga lotus, berubah menjadi seringaian yang ompong. Rambutnya berubah menjadi abu-abu, kemudian putih. Anggota-anggota badan yang semula ramping berisi dan kuat berubah menjadi kurus dan lemah, dan dia jatuh ke lantai. Dari seorang gadis yang muda, perwujudan ini kemudian berubah menjadi seorang perempuan tua yang berusia 80 tahun.
Khema melihat perempuan tua ini mati dan membusuk sampai tulang-tilangnya menjadi debu.Khema kemudian menyadari bahwa sama seperti gadis cantik itu, suatu hari ia juga akan menjadi tua dan mati. Semua kesombongan dan kecantikan luar, luluh dari dirinya dan ia seketika mengerti akan ketidak-kekalan dari fisik jasmani dan kehidupan.

Ia mencapai tingkat Arahat, dan ia memasuki Sangha Bhikkhuni setelah mendapatkan izin dari raja Bimbisara. Ia menduduki ranking pertama dalam Pandangan Terang di antara para bhikkhuni lainnya.

Bimbisara [Raja Pertama Penyokong Sang Buddha]

Raja Bimbisara sejak dulu telah menawarkan setengah dari kerajaannya kepada Pertapa Gotama, saat Pertapa Gotama pergi melepaskan keduniawiannya kerana Beliau ingin mencari Pencerahan. Raja Bimbisara meminta Beliau agar berkenan kembali ke Rajagaha untuk mengajarkan Dhamma begitu Sang Pertapa telah mendapatkan apa yang Ia cari.
Ketika Pertapa Gotama telah menjadi Buddha, Seorang yang Telah Mencapai Penerangan, beliau tidak melupakan janjiNya untuk kembali. Dengan diikuti oleh sejumlah besar muridNya, Beliau memutuskan untuk mengunjungi Rajagaja. Ketenaran Beliau sebagai guru spiritual telah menyebar di kota itu dan hal itu akhirnya diketahui oleh raja Bimbisara.
Demi mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba di gerbang kota, Raja dengan sejumlah besar pengawalnya pergi untuk menyambut Sang Buddha dan para muridNya. Ia mendekati Sang Buddha dan memberikan salam hormatnya; tetapi para pengawal raja tidak tahu kepada siapa mereka harus memberi hormat; kepada Sang Buddha atau kepada Yang Mulia Kassapa. Mereka ragu apakah Sang Buddha yang menjalani kehidupan suci dibawah bimbignan Yang Mulia Kassapa ataukah sebaliknya, karena mereka berdua sama-sama merupakan guru-guru spiritual yang amat disegani.
Sang Buddha membaca pikiran mereka dan bertanya kepada Yang Mulia kassapa mengapa ia meninggalkan cara-cara pemujaan-apinya. Mengerti maksud di balik pertanyaan tersebut, Yang Mulia Kassapa menerangkan bahwa ia lebih senang dengan keadaan damai Nibbana daripada kesenangan-kesenagan inderawi. Setelah itu ia menjatuhkan dirinya di kaki Sang Buddha dan berkata, "Guruku, Sang Buddha, adalah Sang Bhagava; saya adalah murid Beliau".
Orang-orang yang menpunyai keyakinan merasa sangat bahagia mendengarkan percakapan tersebut. Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhamma, dan raja Bimbisara mencapai tingkat kesucian pertama. Setelah menembus jalan tersebut, raja bimbisara mengatakan kepada Sang Buddha, “Dulu, O Sang Bhagava, ketika saya masuih sebagai seorang pangeran, saya mempunyai lima harapan. Kelimat harapan tersebutkini telah terpenuhi. Harapan saya yang pertama adalah menjadi Raja. Harapan yang kedua adalah bahwa Samma Sambuddha mau mengunjungi kerajaanku. Harapan yang ketiga adalah bahwa saya akan menjadi pengikut dari Samma Sambuddha tersebut. Harapan yang keempat adalah bahwa Beliau berkenan membabarkan Dhamma kepada saya. Harapan yang kelima adalah bahwa saya dapat mengerti ajaran/Dhamma tersebut. Kini kelima harapanku itu telah terpenuhi”.
Karena merasa amat berterima kasih atas hadiah Dhamam dari Sang buddha ini, raja bimbisara mempersembahkan sebuah taman dengan hutan bambu yang tenang kepada Sang Buddha dan para muridNya untuk dipergunakan. Taman ini kemudian diberi nama Hutan Bambu. Sang Buddha menghabiskan tiga masa vassa berturut-turut disana dan tiga masa vassa lainnya kemudian.

Setelah mendengarkan Dhamma, raja Bimbisara menjadi penguasa yang baik dan setia pada agama. Tetapi kaerna disebabkan oleh karma buruknya yang lampau ia harus menghadapi kematian yang tidak pada waktunya serta menyengsarakan yang disebabkan oleh kekejaman putranya sendiri.

Jadwal Sehari-hari Sang Buddha

Kegiatan Sang Buddha tiap hari adalah sebagai berikut:
Pagi hari (pukul 04.00 – pukul 12.00
Sang Buddha bangun pukul 04.00 pagi, setelah mandi lantas duduk bermeditasi selama satu jam. Dari pukul 05.00 pagi, selama satu jam, Sang Buddha melihat dengan mata dewa ke seluruh dunia, barangkali ada orang yang memerlukan pertolongan Beliau.
Pukul 06.00 pagi memakai jubah-Nya dan pergi ke desa atau kota untuk mengumpulkan makanan atau pergi mengunjungi orang yang memerlukan pertolongan Beliau.
Tiba di desa atau kota, Sang Buddha berjalan dari rumah ke rumah dengan mata ditujukan ke tanah dan menerima makanan apa saja yang dimasukkan ke dalam mangkuk-Nya dengan tidak mengucapkan sesuatu kata pun. Kalau pergi bersama-sama dengan murid-Nya, mereka merupakan barisan yang panjang karena berjalan satu per satu. Pada waktu Sang Buddha menerima juga undangan makan di rumah seorang umat. Sehabis bersantap, Beliau selalu memberikan khotbah Dhamma. Kalau ada orang yang minta diterima sebagai murid/pengikut, maka Beliau mentahbiskannya di tempat tersebut.
Siang hari (pukul 12.00 – pukul 18.00)
Waktu ini biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan dari para bhikkhu. Sang Buddha menjawab semua pertanyaan dengan disertai nasehat dan petunjuk mengenai meditasi. Kalau mereka pulang, maka Sang Buddha beristirahat di kamar-Nya dan dengan mata dewa melihat ke seluruh dunia, barangkali ada orang yang memerlukan pertolongan-Nya. Kalau Beliau melihat ada yang memerlukan pertolongan, maka Beliau segera mengunjunginya.
Kalau hari itu tidak ada orang yang memerlukan pertolongan Beliau, maka Beliau keluar dari kamar untuk bertemu dengan ratusan orang yang berkumpul di ruang khotbah (Dhammasala).
Di Dhammasala, Sang Buddha memberikan khotbah dengan cara yang khas, sehingga tiap orang merasa bahwa khotbah itu ditujukan kepada dirinya. Dengan demikian Sang Buddha memberikan kegembiraan kepada orang yang bijaksana, mempertinggi pengetahuan orang biasa dan memberi penerangan kepada orang yang sedang dihinggapi kegelapan batin.
Waktu jaga pertama (pukul 18.00-pukul 22.00)
Waktu ini para bhikkhu kembali datang untuk mendengar khotbah Dhamma atau untuk bertanya tentang hal-hal yang masih mereka ragukan. Selain para bhikkhu juga umat biasa banyak yang datang menemui Sang Buddha.
Waktu jaga kedua (pukul 22.00-pukul 02.00)
Para dewa datang untuk mendengarkan Dhamma yang khusus ditujukan kepada mereka. Mereka tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
Waktu jaga ketiga (pukul 02.00-pukul 04.00)
Dari pukul 02.00 sampai pukul 03.00, Sang Buddha berjalan mondar-mandir di luar kamar (melakukan meditasi berjalan) sambil menghirup udara pagi. Pukul 03.00 pagi, Sang Buddha tidur selama satu jam dan bangun pada pukul 04.00 pagi.

Pangeran Rahula

Pada hari ke tujuh Sang Buddha di Kapilavatthu, Putri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya ke sebuah jendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Putri Yasodhara kemudian bertanya kepada Rahula, “Anakku sayang, tahukah engkau siapa orang itu?”
Beliau adalah Buddha, Ibu,” jawab Rahula.
Yasodhara tidak dapat lagi menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata,
Sayang, pertapa yang kulitnya kuning emas itu dan kelihatannya sebagai Brahma dikelilingi oleh ribuan murid-Nya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Setelah ayahmu meninggalkan istana, tidak lagi diketahui apa yang terjadi dengan harta tersebut. Pergilah kepadanya dan mintalah hadiah sambil barkata, “Ayah, aku adalah Pangeran Rahula. Kalau aku kelak menjadi Raja, aku akan menjadi Raja di raja. Aku mohon diberi harta pusaka, karena seorang anak adalah pewaris dari apa yang menjadi milik ayahnya.”
Pangeran Rahula yang masih murni dan belum tahu apa-apa pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha dan menatap muka-Nya, Rahula mengatakan apa yang tadi dipesankan oleh ibunya. Kemudian ia menambahkan, “Ayah, bahkan bayangan Ayah membuat hatiku senang.”
Selesai makan siang, Sang Buddha meninggalkan istana dan Rahula mengikuti sambil terus merengek-rengek, “Ayah, berikanlah harta pusaka, Ayah memiliki banyak harta, Ayah, aku mohon dengan sangat, berikanlah kepadaku warisan.”
Tidak ada orang yang mencoba menghalang-halangi dan Sang Buddha sendiri juga membiarkan saja Rahula merengek-rengek sambil terus mengikuti jalan di samping-Nya. Tiba di taman, Sang Buddha berpikir,
Rahula minta warisan harta pusaka ayahnya, tetapi semua harta dunia penuh dengan penderitaan. Lebih baik Aku memberinya warisan yang berupa Tujuh Faktor Penerangan Agung yang Aku peroleh di bawah pohon Bodhi. Dengan demikian ia akan mewarisi harta pusaka yang paling mulia.”
Tiba di vihara, Sang Buddha minta kepada Sariputta untuk mentahbiskan Rahula menjadi Samanera.
Mendengar berita bahwa Rahula telah ditahbiskan menjadi samanera, Raja Suddhodana menjadi sedih sekali.
Raja lalu pergi menemui Sang Buddha dan dengan sopan menegur dengan kata-kata,
Waktu dulu anakku meninggalkan istana membuat aku sedih, sedih dan sakit sekali. Waktu Nanda meninggalkan istana hatiku menjadi hancur dan menderita sekali. Kemudian aku mencurahkan cinta dan perhatianku kepada cucuku Rahula dan mencintai melebihi cintaku kepada siapa pun juga. Sekarang Rahula dibawa kemari dan ditahbiskan menjadi samanera. Aku sangat menyesal dan tidak senang akan apa yang telah terjadi. Aku mohon dengan sangat  agar mulai hari ini tidak lagi ada seorang bhikkhu atau samanera yang ditahbiskan tanpa izin dari orang tuanya.”
Sang Buddha menyetujui permohonan Raja Suddhodana dan mulai hari itu tidak mentahbiskan bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin dari orangtuanya.
Keesokan harinya, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian Anagami.

Ananda

Setelah Sang Buddha beberapa lama diam di Kapilavatthu, 80.000 orang telah ditahbiskan menjadi bhikkhu, yaitu satu orang dari setiap keluarga. Kemudian Sang Buddha dengan rombongan berangkat ke Rajagaha.
Sewaktu dalam perjalanan, Sang Buddha berhenti di hutan mangga Anupiya dan di tempat itu Beliau dikunjungi oleh Anuruddha, Bhaddiya, Ananda, Bhagu, Kimbila, Devadatta, dan tukang pangkas rambut mereka yang bernama Upali.
Di kisahkan bahwa lima orang dari mereka dalam waktu singkat mencapai tingkat kesucian Arahat. Ananda mencapai tingkat kesucian Sotapanna dan Devadatta tidak mencapai tingkat kesucian, tetapi memperoleh kekuatan gaib yang luar biasa dan yang tertinggi yang dapat dicapai seorang manusia.
Ananda dilahirkan pada hari, bulan, dan tahun yang sama dengan Sang Buddha dan terkenal sekali karena sumbangannya untuk kemajuan dan perkembangan Buddha Dhamma.
Selama 20 tahun setelah mencapai Penerangan Agung, Sang Buddha belum mempunyai seorang pembantu tetap. Setiap hari secara bergantian bhikkhu Nagasamala, Nagita, Upavana, Sunakkhata, Sagata, Radha, dan Meghiya, dan samanera Cunda membantu dan melayani Sang Bhagava (Buddha), meskipun tidak teratur.
Pada suatu hari dalam khotbah-Nya di Rajagaha, Sang Bhagava menyinggung tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap karena merasa usia-Nya yang sudah meningkat. Semua murid utama-Nya yang terdiri dari delapan puluh Arahat, seperti Sariputta dan Mogallana, menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap. Tetapi semuanya ditolak. Para Arahat kemudian menganjurkan Ananda, yang selama itu diam saja, untuk memohon kepada Sang Bhagava agar dapat diterima menjadi pembantu tetap. Jawaban Ananda dalam hal ini sungguh menarik sekali. Ananda mengatakan, “Kalau Sang Bhagava memang memerlukan Ananda sebagai pembantu tetap, Sang Bhagava boleh mengatakannya.”
Kemudian Sang Buddha berkata, “Ananda, jangan membiarkan orang lain menganjurkan engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas kemauan sendiri engkau dapat menjadi pembantu tetap Sang Buddha.”
Baru setelah itulah Ananda menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap asal saja Sang Buddha berkenan meluluskan delapan permintaannya, yaitu untuk menolak empat hal dan meluluskan empat hal lainnya.
Empat hal yang Ananda mohon supaya ditolak adalah :
1. Apabila Sang Buddha menerima pemberian jubah yang bagus, maka jubah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda.
2. Kalau Sang Buddha menerima hadiah, maka hadiah tersebut tidak boleh diberikan kepada Ananda.
3. Bahwa Ananda tidak boleh diminta untuk tidur di kamar pribadi Sang Buddha yang harum baunya (Gandhakuti).
4. Kalau Sang Buddha menerima undangan pribadi, maka undangan itu tidak termasuk untuk dirinya.
Ananda mengatakan kalau Sang Buddha melakukan satu dari empat hal yang tersebut di atas, maka orang akan bercerita bahwa Ananda menjadi pembantu tetap karena ingin mendapat jubah bagus, makanan enak, tempat tinggal yang menyenangkan dan agar bisa ikut serta kalau Sang Buddha mendapat undangan.
Empat hal yang Ananda mohon Sang Buddha menerimannya :
1. Kalau Ananda menerima sebuah undangan atas nama Sang Buddha, maka Sang Buddha harus memenuhinya.
2. Kalau ada orang datang dari tempat jauh, supaya ia boleh membawanya menghadap kepada Sang Buddha.
3. Setiap waktu ia diperbolehkan untuk bertanya kepada Sang Buddha, apabila ia merasa ada sesuatu yang diragu-ragukan.
4. Apa pun juga yang Sang Buddha khotbahkan sewaktu ia tidak hadir, supaya Sang Buddha bersedia mengulangnya kembali.
Kalau hal ini tidak diperkenankan, orang akan bertanya-tanya, apa sebenarnya faedah dari pengabdian tersebut. Hanya kalau delapan permohonan ini dikabulkan, ia akan mendapat kepercayaan khalayak ramai dan mereka tahu bahwa Sang Buddha mempunyai kepercayaan besar terhadap dirinya. Setelah Sang Buddha setuju dan memberikan anugerah (Vara) berupa Delapan Hak Istimewa tersebut, maka mulai hari itu Ananda resmi menjadi Buddha-Upatthaka (pembantu tetap Sang Buddha).
Selama 25 tahun lamanya Ananda melayani Sang Buddha, mengikuti-Nya sebagai sebuah bayangan, mengambilkan air, mencuci kaki-Nya, menemani kemana pun Sang Buddha pergi, membersihkan kamar-Nya dan hal-hal lain lagi.
Justru karena hubungan erat inilah, maka Ananda mempunyai kesempatan istimewa untuk mendengarkan semua khotbah Sang Buddha. Dibantu dengan ingatan kuat yang dimilikinya, maka Ananda dapat mengulang semua khotbah Sang Buddha. Karena itu Ananda juga dinamakan Bendahara Dhamma (Dhamma-bhandagarika).
Ananda mencapai tingkat Arahat tiga bulan setelah Sang Buddha mangkat, yaitu pada hari pembukaan Sidang Agung Pertama di Goa Sattapanni, kota Rajagaha yang diketuai oleh Maha Kassapa. Di sidang tersebut, Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Sang Buddha, sedangkan Upali mengulang tata tertib (Vinaya) para bhikkhu dan bhikkhuni.
Patut pula dicatat sebagai jasa Ananda bahwa berkat sokongannya yang kuat, Putri Pajapati berhasil diterima menjadi bhikkhuni oleh Sang Buddha, yang menjadi permulaan berdirinya Sangha Bhikkhuni.
Dan Ananda jugalah, atas perintah Sang Buddha, merancang jubah bhikkhu dengan mengambil contoh sawah-sawah di Magadha.
Ananda meninggal dunia pada usia 120 tahun. Pada hari akan meninggal dunia, Ananda pergi ke tepi Sungai Rohini. yang menjadi perbatasan antara Kapilavatthu dan negara Koliya. Setelah memberikan khotbah kepada para keluarganya yang berkumpul di kedua tepi sungai, Ananda berjalan ke tengah Sungai Rohini dan di situlah dari tubuhnya keluar api yang membakar badan jasmaninya.
Keluarganya di kedua tepi sungai mengumpulkan abu sisa badan jasmaninya, dibagi dua dan kemudian mereka mendirikan dua buah stupa sebagai penghormatan kepada Ananda, satu di Kapilavatthu dan satu lagi di negara Koliya.
Seperti diketahui di halaman muka, Ananda adalah putra tunggal dari Pengeran Sukkhodana, adik Raja Suddhodana.

Wejangan Terakhir Dari Sang Bhagava

Kini Sang Bhagava berkata kepada Ananda, “Ada kemungkinan bahwa di antara kalian ada yang berpikir, ‘Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.’ Tetapi, Ananda, hendaknya jangan ada orang yang berpikir seperti itu. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma (Ajaran) dan Vinaya (Tata Tertib), Ananda, itulah kelak yang akan menjadi Gurumu, apabila Aku sudah tidak ada lagi.”

“Dan, Ananda, sebagaimana sekarang para bhikkhu menegur satu sama lain dengan menggunakan ‘Sahabat’ (Avuso), setelah Aku sudah tidak ada lagi, maka kebiasaan itu harus diubah. Seorang bhikkhu senior, Ananda, boleh memanggil bhikkhu yang lebih muda dengan memanggil namanya, nama keluarganya atau dengan Avuso (sahabat); sedangkan seorang bhikkhu yunior harus memanggil seorang bhikkhu yang lebih senior dengan “Bhante” atau “Ayasma”.

Apabila dikehendaki, Ananda, setelah Aku sudah tidak ada lagi, Sangha dapat menghapus aturan-aturan yang kurang penting (minor rules).”

Ananda, bila Sang Tathagata sudah tidak ada lagi, Sangha harus melaksanakan hukuman berat (brahmadanda) terhadap Bhikkhu Channa.”

Tetapi, Bhante, apakah yang dimaksud dengan hukuman berat itu?”

Ananda, Bhikkhu Channa boleh mengatakan apa saja yang ia suka, tetapi bhikkhu-bhikkhu lain tidak boleh bicara dengannya, tidak boleh menasehatinya dan tidak boleh memberi petunjuk kepadanya.”

“Kemudian Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu, ‘Oh, Bhikkhu, mungkin ada di antara kalian yang masih ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, terhadap Sang Jalan dan terhadap pelaksanaannya. Engkau boleh mengajukan pertanyaan, oh Bhikkhu. Janganlah di kemudian hari engkau menyesal dengan mempunyai pikiran, ‘Sang Guru ketika itu terasa di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan muka dengan kami, meskipun berhadap-hadapan muka, kami lalai untuk bertanya kepada Beliau.’’”

Meskipun ditanya demikian, namun para bhikkhu diam saja. Untuk kedua kali dan untuk ketiga kali para bhikkhu ditanya, para bhikkhu diam saja. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada mereka, "Mungkin karena ingin menghormat kepada Sang Guru, engkau tidak mau mengajukan pertanyaan apa-apa. Baiklah kalian berunding dulu dan kemudian baru mengajukan pertanyaan.” Namun para bhikkhu tetap membisu.

Kemudian Ananda berkata kepada Sang Bhagava, “Sungguh mengherankan, Bhante, sungguh luar biasa! Saya mempunyai keyakinan bahwa di antara para bhikkhu yang hadir di sini, tak ada seorang pun yang masih ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, terhadap Sang Jalan atau terhadap pelaksanaannya!”

Karena engkau mempunyai keyakinan, Ananda, sehingga engkau berbicara seperti itu. Namun di sini dapat Aku terangkan, Ananda, bahwa Sang Tathagata memang tahu dengan pasti bahwa tidak ada seorang pun yang merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, terhadap Sang Jalan dan terhadap pelaksanaannya. Karena, Ananda, di antara lima ratus bhikkhu yang hadir di sini, yang terendah sudah memperoleh tingkat kesucian Sotapanna, sehingga mereka sudah terbebas dan tak dapat jatuh lagi ke alam-alam sengsara, dan terjamin dalam perjalanannya menuju Pembebasan Terakhir.”

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu, “Karena itu, oh Bhikkhu, dengarlah baik-baik nasehat-Ku, ‘Segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur-unsur dikodratkan akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh (Handa ‘dani bhikkhave amantayamive : Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha)!” ini adalah ucapan terakhir dari Sang Tathagata.

Angulimala

Pada tahun ke dua puluh setelah mendapat Peneragan Agung, Sang Buddha menaklukkan seorang penyamun ganas bernama Angulimala. Kisahnya adalah sebagai berikut :
Angulimala adalah anak seorang penasehat raja negara Kosala. Ayahnya bernama Bhaggava dan ibunya Mantani. Nama aslinya adalah Ahimsaka. Hari ia dilahirkan, semua senjata di seluruh negeri, termasuk yang ada di istana, mengeluarkan cahaya gemerlapan. Raja menjadi takut sekali dan keesokan harinya memanggil penasehatnya untuk ditanyakan tentang sebab mengapa semua senjata mengeluarkan cahaya.
Bhaggava menjawab, “Istriku baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki, Baginda.”
Raja Kosala bertanya, “Tetapi, mengapa senjata-senjata itu lalu mengeluarkan cahaya gemerlapan?”
Baginda, anakku itu kelak akan menjadi seorang penyamun, seorang penyamun yang luar biasa.”
Kembali Raja bertanya, “Apakah ia akan merampok seorang diri atau dengan berkawan?”
Bhaggava menjawab, “ Ia akan bekerja seorang diri, Baginda.”
Raja kemudian berkata, “Kalau begitu, kenapa kita tidak sekarang saja membunuhnya?”
Bhaggava menjawab, “Karena ia akan bekerja seorang diri, maka kita akan dengan mudah dapat menangkapnya.”
Ketika Ahimsaka mencapai umur untuk bersekolah, maka ayahnya mengirimnya ke sebuah sekolah di Takkasila. Ahimsaka merupakan murid yang terkuat, terpintar dan juga yang terpatuh dari semua murid di sekolah tersebut.
Karena itu anak-anak yang lain merasa iri hati kepada Ahimsaka.
Mereka sedikit demi sedikit menghasut guru mereka, sehingga akhirnya guru tersebut juga membenci Ahimsaka.
Setelah selesai belajar di sekolah tersebut, gurunya memanggil Ahimsaka dan berkata, “Sekarang engkau sudah tamat belajar di sekolah ini, tetapi sebelum engkau pulang, terlebih dahulu engkau harus membayar uang sekolah kepadaku.”
Berapakah yang harus kubayar, Guru?”
Engkau tidak usah membayar dengan uang. Cukup, jika engkau memberiku seribu buah jari tangan kanan manusia,” jawab gurunya.
Meskipun hal ini sangat sulit sekali, namun sebagai murid yang sangat patuh, Ahimsaka berjanji kepada gurunya untuk melaksanakan apa yang diminta oleh gurunya. Sebelum pergi, gurunya kembali berpesan, “Ingat, jangan membawa dua buah jari tangan dari orang yang sama.”
Sampai hari itu Ahimsaka belum pernah menyakiti orang lain dan karena itu ia tidak tahu bagaimana harus memotong jari orang. Karena ingin mematuhi perintah gurunya, maka Ahimsaka membawa pedangnya dan pergi ke hutan Jalini di negara Kosala. Di hutan itu ia mencegat para pelancong yang lewat, membunuhnya dan mengambil jari tangan kanannya. Sesudah itu ia membuat kalung dari jari-jari tersebut dan menggantung kalung itu di lehernya. Karena kalung dari jari-jari tersebut, ia kemudian mendapat nama baru sebagai Angulimala (Anguli = jari, mala = kalung).
Sekarang Angulimala menjadi seorang pembunuh yang kejam yang ditakuti. Kalau ingin melewati hutan Jalini, para pedagang atau pelancong jalan berkelompok, berdua, berempat, bersepuluh, berdua puluh, dan bertiga puluh. Tetapi, begitu mereka mendengar, “Aku Angulima, jangan lari!” Mereka menggigil dan gemetaran, dan tidak dapat melarikan diri lagi. Dengan mudah Angulimala membunuh orang-orang tersebut dan memotong jari tangan kanannya. Karena itu tidak ada lagi orang yang berani lewat hutan tersebut.
Angulimala kemudian memindahkan tempat kerjanya dan di tempat yang baru ia kembali mencegat dan membunuh orang yang lewat.
Karena itu, Raja Kosala mempersiapkan tentara yang besar untuk menangkap Angulimala. Ibunya, Mantani, mendengar tentang persiapan yang dilakukan Raja Kosala, ia berkata kepada suaminya, “Anak kita yang tercinta sekarang telah menjadi seorang pembunuh. Sekarang Raja sedang membuat persiapan untuk menangkap dan membunuhnya. Apakah kamu tidak dapat pergi menemui anak kita dan membujuknya supaya berhenti membunuh?”
Istriku tercinta, anak itu sekarang sudah terlalu ganas. Ia mungkin sudah berubah seluruhnya dan kalau aku pergi menemuinya, mungkin aku pun akan dibunuhnya. Aku tidak mau mati percuma.”
Tetapi ibunya adalah seorang wanita yang halus budi pekertinya dan mempunyai hati yang baik. Apalagi ia mencintai anaknya lebih dari dirinya sendiri. Ia pikir, “Aku harus pergi seorang diri ke hutan untuk menyelamatkan anakku.” Kemudian ia berjalan pergi ke hutan dengan membawa bekal makanan seperlunya.
Ketika itu Angulimala sudah membunuh 999 orang. Berbulan-bulan lamanya ia berada di hutan tanpa memperoleh cukup makanan, tidur, mandi, dan pakaian yang bersih. Badannya sudah berbau busuk. Ia benci sekali dengan hidup seperti itu. Tetapi bagaimana pun juga, ia masih harus membunuh seorang lagi untuk memenuhi permintaan gurunya berupa seribu buah jari tangan kanan manusia.
Ia berpikir, “Sekarang, meskipun ibuku sendiri yang datang, aku akan membunuhnya, memotong jari tangannya untuk mencukupi jumlah seribu yang diminta guruku.”
Pagi hari itu, sebagaimana biasa, Sang Buddha melihat ke seluruh penjuru dunia untuk mencari orang yang mungkin dapat ditolong-Nya dalam bidang kerohanian. Ketika itu Sang Buddha melihat Angulimala, yang meskipun sudah jemu dengan perbuatan membunuh dan ingin kembali menjadi orang yang baik, masih kekurangan satu orang lagi yang akan dijadikan korban. Dan korban terakhir ini justru adalah ibunya sendiri.
Karena merasa kasihan, Sang Buddha lalu bertekad untuk menolong Angulimala, ibunya dan juga khalayak ramai. Karena itu, dengan membawa mangkuk-Nya Sang Buddha berjalan menuju ke hutan tempat Angulimala bersembunyi menunggu mangsanya yang terakhir.
Penduduk desa yang melihat Sang Buddha berjalan menuju hutan, berusaha mencegah-Nya dengan mengatakan,
Bhikkhu, sebaiknya Anda jangan pergi ke hutan itu. Di sana bersembunyi seorang penyamun yang bernama Angulimala. Ia telah membunuh ratusan orang. Ia adalah orang yang kejam, buas, dan jahat. Ia juga pasti akan membunuh Anda. Banyak orang yang sudah meninggalkan rumah dan desanya, sedangkan kami sendiri hari ini juga akan meninggalkan tempat ini, sebab siapa tahu mungkin saja hari ini ia akan datang ke tempat ini. Karena itu, sebaiknya Anda jangan berjalan terus. Kembalilah sekarang juga ke tempat dari mana Anda datang.”
Mereka menasehati Sang Buddha sampai tiga kali. Tetapi Sang Buddha hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan-Nya memasuki hutan.
Ketika itu ibu Angulimala sudah terlebih dahulu memasuki hutan. Angulimala melihat ibunya datang dan berpikir, “Alangkah kasihannya wanita ini. Ia datang seorang diri. Aku memang kasihan kepadanya, tetapi apa yang dapat aku lakukan? Aku harus memegang janjiku dan membunuhnya.”
Ia menghunus pedangnya dan berlari mendekati ibunya. Tiba-tiba Sang Buddha berdiri di antara Angulimala dan ibunya. Angulimala berpikir, “Baik juga pertapa ini berdiri di depan ibuku. Dengan demikian aku tidak usah membunuh ibuku. Aku tidak akan mengganggunya, tetapi membunuh pertapa ini dan memotong jari tangannya.”
Dengan pedang terhunus, ia berlari mendekati Sang Buddha. Sang Buddha berjalan saja dengan tenang. Angulimala berlari-lari untuk menyergap dan membunuh Sang Buddha, tetapi meskipun badannya penuh dengan keringat ia tetap tak dapat menyentuh badan Sang Buddha yang sedang berjalan dengan tenang. Angulimala kemudian menjadi letih, sehingga semua sendi-sendinya merasa sakit sekali dan tidak kuat lagi untuk berlari. Ia berpikir, “Tidak pernah aku seletih ini, meskipun dulu aku berlari-lari menangkap gajah, kuda, kereta perang, rusa atau binatang lainnya. Tetapi sekarang, sungguh mengherankan. Aneh sekali aku tak dapat mengejar pertapa ini.”
Kemudian ia berteriak, “Hai berhenti, berhenti Bhikkhu!”
Sang Buddha menjawab, “Aku berhenti, Angulimala! Tetapi, apakah engkau sendiri berhenti?”
Angulimala tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sang Buddha dan berpikir, “Seorang bhikkhu tidak boleh bohong. Bhikkhu ini, meskipun berjalan lebih cepat dari aku, mengatakan bahwa ia berhenti. Aku sekarang memang sangat letih. Tentu ada maksud tertentu dalam ucapan tersebut.”
Kemudian ia bertanya kepada Sang Buddha, “Bagaimana Anda mengatakan berhenti, padahal Anda berlari lebih cepat dari Aku?”
Sang Buddha mengucapkan syair seperti di bawah ini :
Sebagaimana biasa, Angulimala, Aku berhenti,
Karena Aku berbelas kasihan terhadap semua makhluk hidup,
Tetapi kamu tidak mempunyai belas kasihan terhadap makhluk hidup,
Karena itu Aku berhenti dan kamu tidak berhenti.”

Angulimala rupanya sangat terkesan dengan syair yang diucapkan Sang Buddha. Ia membuang pedangnya dan berlutut di hadapan Sang Buddha.
Sang Buddha memberi berkah dan kemudian mengajaknya pergi ke vihara. Di vihara ia ditahbiskan menjadi bhikkhu. Ibu Angulimala yang menyaksikan seluruh peristiwa ini dari dekat, merasa kagum sekali kepada Sang Buddha, yang dalam waktu demikian singkat dapat menaklukkan Angulimala dan mengubahnya menjadi orang yang baik.
Raja Kosala, sebelum memasuki hutan untuk menangkap Angulimala, terlebih dulu datang mengunjungi Sang Buddha untuk mohon restu Beliau. Ia datang berkunjung dengan membawa lima ratus orang prajurit berkuda.
Sang Buddha bertanya, “Oh, Baginda Yang Agung, apakah Baginda mendapat kesukaran? Apakah Raja Bimbisara menyatakan perang kepada Anda atau Pangeran dari Licchavi atau mungkin dari kerajaaan lain?”
Bukan, Yang Mulia. Ada seorang penyamun yang ganas sekali di kerajaanku. Namanya Angulimala. Aku hendak pergi menangkapnya,” jawab Raja Kosala.
Sang Buddha lalu berkata, “Oh, Baginda Yang Agung. Umpamanya Baginda melihat Angulimala sekarang sudah bercukur gundul, memakai jubah kuning, meninggalkan kehidupan sebagai seorang penyamun dan berhenti membunuh, apakah yang Baginda akan lakukan?”
Raja Kosala menjawab, “Kalau demikian halnya, aku akan berlutut di hadapannya.”
Kemudian Sang Buddha memanggil Angulimala untuk keluar. Ketika Angulimala memasuki ruangan, semua prajurit raja melarikan diri, tetapi dicegah oleh Sang Buddha. Setelah itu Sang Buddha memberikan khotbah Dhamma.
Suatu hari ketika sedang mengumpulkan makanan, Angulimala diserang oleh orang-orang yang sedang berkelahi. Sang Buddha kemudian memberitahukan Angulimala agar jangan mempunyai rasa dendam dan harus menganggap kejadian ini sebagai hukuman atas kejahatan yang pernah ia lakukan. Setelah berlatih dengan tekun, Angulimala kemudian mencapai tingkat Arahat.
Dikisahkan sewaktu Angulimala sudah mencapai tingkat Arahat, ia mendengar seorang wanita sedang merintih-rintih kesakitan waktu hendak bersalin. Hal ini menggugah hatinya, sehingga ia berkeinginan menolong wanita tersebut. Sewaktu ia menceritakan peristiwa tersebut kepada Sang Buddha dan menanyakan cara untuk menolong penderitaan tersebut, Sang Buddha memberinya petunjuk untuk memberi wanita itu air, setelah terlebih dahulu dibacakan kalimat-kaimat. :
Yatoham bhagini ariyaya,
Jatiya jato
Nabhijanami sancicca
Panam jivita voropeta
Tena saccena sotthi te
Hotu sotthi gabbhassa.”

Yang berarti :
Saudari, sejak dilahirkan sebagai seorang Ariya
Aku tidak ingat dengan sengaja
Membunuh suatu makhluk hidup
Dengan pernyataan yang benar ini, semoga Anda
Dan bayi dalam kandungan selamat.”

Dan benar saja, setelah diberi air tersebut, wanita itu segera bersalin dengan selamat. Sampai hari ini kalimat-kalimat tersebut dikenal sebagai Angulimala-sutta dan dipakai untuk membuat air guna memudahkan persalinan.
Penaklukan Angulimala sering kali dicatat sebagai satu dari sekian banyak perbuatan Sang Buddha yang menolong manusia karena rasa belas kasih yang sangat besar terhadap umat manusia.
Kisah ini pun dapat dipakai sebagai contoh untuk membuktikan bahwa kamma (perbuatan) baik yang orang lakukan dapat memusnahkan kamma buruk yang pernah ia lakukan. Demikianlah kisah mengenai Angulimala.

Cinca-manavika

Pada tahun ke tujuh setelah mendapat Penerangan Agung, waktu itu kemasyhuran Sang Buddha mencapai titik tertinggi dan waktu itu pula golongan pertapa yang merasa terdesak hebat, berusaha untuk menjatuhkan nama Sang Buddha dengan menggunakan seorang wanita bernama Cinca-manavika yang melancarkan fitnahan keji terhadap diri Sang Buddha. Kisahnya adalah sebagai berikut :
Para pertapa dari golongan Paribbajika merasa sangat terdesak dengan adanya Sang Buddha yang semakin lama semakin masyhur namanya. Karena itu, mereka merencanakan satu tipu muslihat untuk menjatuhkan nama Sang Buddha dengan menggunakan Cinca sebagai umpan. Cinca adalah seorang wanita cantik yang banyak akalnya. Wanita ini dibujuk oleh para pertapa dari golongan Paribbajika untuk pura-pura mengunjungi Sang Buddha di vihara Jetavana.
Pada suatu malam, Cinca pergi ke vihara Jetavana dan sengaja berjalan di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh khalayak ramai. Malam itu ia tidur di emper vihara dekat kamar Sang Buddha. Pagi harinya ia berjalan meninggalkan vihara dan juga dilihat oleh banyak orang. Ketika ditanya, Cinca menjawab bahwa ia tadi malam tidur bersama-sama Sang Buddha.
Beberapa bulan kemudian dengan berpura-pura hamil (ia mengikat sepotong kayu di bagian perutnya) Cinca pergi mengunjungi Sang Buddha yang sedang berkhotbah di hadapan umat. Ketika itulah Cinca dengan tiba-tiba membuat onar dengan menuduh Sang Buddha sebagai orang yang tidak bertanggung jawab dan tebal muka karena tidak mau memberi bekal untuk persalinannya.
Mendengar tuduhan itu, Sang Buddha tidak berkata apa-apa dan hanya diam saja. Tetapi Dewa Sakka menjadi marah sekali. Beliau memerintahkan seekor tikus untuk menggigit tali yang mengikat kayu di sekitar perut Cinca.
Tali itu putus dan kayu menimpa jari kaki Cinca hingga terluka. Khalayak ramai lalu menyeretnya ke luar Vihara. Waktu kakinya menginjak tanah di luar pagar vihara, kakinya terus amblas dan seluruh badannya masuk ke tanah untuk kemudian terlahir di alam neraka.
Waktu Sang Buddha kemudian ditanya, mengapa Beliau sampai mendapat fitnahan seperti itu, Beliau menerangkan bahwa itu adalah akibat dari perbuatan-Nya juga, yaitu bahwa dalam salah satu kehidupannya yang lamapu, Beliau pernah mencaci-maki seorang Pacceka Buddha. Jadi saat ini Beliau difitnah adalah akibat dari perbuatan-Nya yang tersebut di atas.
Di kemudian hari terjadi lagi fitnahan yang serupa oleh seorang wanita bernama Sundari, didalangi oleh golongan pertapa Paribbajika yang masih penasaran. Kisahnya adalah sebagai berikut :
Seorang wanita bernama Sundari dibujuk oleh para pertapa Paribbajika untuk memperlihatkan diri sedang pergi ke Jetavana dengan berdandan rapi dan memakai wangi-wangian, dan membawa buah-buahan dan beberapa barang lain lagi. Kalau ada yang menegur ia harus menjawab bahwa ia akan menemui Sang Buddha dan akan bermalam di kamarnya. Tetapi sebenarnya, ia hanya melewati saja kamar Sang Buddha dan pergi bermalam di vihara kaum Paribbajika yang berdekatan. Besok pagi-pagi sekali ia harus kembali dan supaya dilihat orang banyak berjalan dari jurusan Jetavana. Beberapa hari kemudian para pertapa tersebut memberi upah kepada beberapa orang bajingan untuk membunuh Sundari dan menyembunyikan mayatnya di tempat sampah dekat Jetavana.
Setelah Sundari dibunuh, dengan menangis mereka menghadap Raja Pasenadi untuk melaporkan tentang hilangnya Sundari. Pencarian kemudian dilakukan oleh petugas-petugas raja dan tidak lama kemudian mereka menemukan mayat Sundari di dekat Gandhakuti (kamar) Sang Buddha.
Dengan menggotong mayat Sundari di atas sebuah usungan, mereka mengaraknya melewati jalan-jalan di kota sambil meneriakkan tuduhan, “Hal ini kami berterima kasih kepada bhikkhu-bhikkhu dari suku Sakya!”
Akibatnya, para bhikkhu yang mengumpulkan makanan dihina habis-habisan oleh penduduk kota. Selama tujuh hari Sang Buddha diam saja di kamar-Nya dan tidak pergi ke kota untuk mengumpulkan makanan, sehingga Ananda mengusulkan untuk pindah saja ke kota lain. Tetapi Sang Buddha menolak usul tersebut dan mengatakan bahwa merupakan satu kesalahan besar untuk pergi menyingkir ke tempat lain hanya atas dasar laporan palsu. Kemudian Beliau mengatakan bahwa dalam tujuh hari persoalan ini sudah dapat dijernihkan.
Setelah mayat Sundari ditemukan di dekat Gandhakuti Sang Buddha, Raja Pasenadi tidak mau menerima begitu saja tuduhan atas diri Sang Buddha.
Raja lalu mengirim banyak petugas ke seluruh penjuru untuk menyelidiki dengan cermat, siapa sesungguhnya yang menjadi pembunuh Sundari.
Di suatu kedai arak, seorang penyelidik mendengar beberapa orang yang terlalu banyak minum arak sedang bertengkar tentang pembagian upah membunuh Sundari. Mereka segera ditangkap dan dibawa menghadap Raja Pasenadi. Di depan Raja, mereka mengakui perbuatan mereke membunuh Sundari atas suruhan para pertapa Paribbajika. Raja kemudian memerintahkan petugas menangkap para pertapa Paribbajika. Setelah diperiksa, akhirnya para pertapa ini mengakui semua perbuatan mereka dan menarik kembali tuduhan palsu yang pernah mereka lontarkan terhadap diri Sang Buddha. Kemudian mereka dijatuhi hukuman sesuai dengan perbuatannya.
Ketika Sang Buddha kemudian ditanya mengenai peristiwa tersebut, Beliau menceritakan kisah di bawah ini :
Ketika itu Sang Bodhisatta bernama Munali dan terkenal sebagai orang yang senang berfoya-foya. Pada suatu hari ia melihat Surabhi (seorang Pacceka Buddha) sedang memakai jubahnya di sebelah luar tembok kota, sedangkan di dekatnya berjalan seorang wanita. Secara senda gurau, Munali mengeluarkan kata-kata, ‘Lihat, pertapa ini bukanlah orang yang hidup membujang, tetapi ia sebenarnya adalah seorang cabul.’ Akibat dari ucapan yang salah inilah yang membuat Sang Buddha dalam kehidupan ini mendapat fitnahan dari Sundari.”

Visakha Dermawati Utama

Magadha. Ayahnya bernama Dhanajaya, putra dari Mendaka, dan ibunya bernama Sumana. Waktu Visakha berusia tujuh tahun, Sang Buddha mengunjungi kota Bhaddiya. Waktu itu Mendaka minta Visakha mengunjungi Sang Buddha dan diberi lima ratus orang pengikut, lima ratus orang budak dengan memakai lima ratus kereta.
Tiba di tempat yang dituju, mereka mendengarkan khotbah Sang Buddha dan Visakha memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapana. Visakha kemudian mengundang Sang Buddha beserta murid-Nya untuk makan siang keesokan harinya di rumah kakeknya.
Selama empat belas hari berikutnya, Mendaka menjamu Sang Buddha beserta rombongan di rumahnya.
Dikisahkan bahwa Raja Pasenadi dari negara Kosala ingin sekali mempunyai seorang yang banyak jasanya tinggal di kerajaannya. Beliau mengirimkan permohonan kepada Raja Bimbisara, yang waktu itu memerintah kerajaan Magadha dan Anga untuk mencarikan seorang yang banyak jasanya untuk tinggal di kerajaannya. Untuk memenuhi permohonan Raja Pasenadi, Raja Bimbisara lalu memilih Dhanajaya, ayah Visakha, untuk pindah ke Savatthi.
Dalam perjalanan menuju ke Savatthi, Dhanajaya berhenti di satu tempat yang berada tujuh “League” dari Savatthi (1 league = 4.800 atau 5.564 m). Melihat bahwa tempat itu menyenangkan sekali, ia mohon kepada Raja Pasenadi untuk membuat tempat tinggal di tempat tersebut. Permohonan itu dikabulkan dan Dhanajaya membuat rumah di tempat tersebut, yang kemudian berkembang menjadi kota yang dinamakan Saketa. Visakha juga ikut tinggal bersama kedua orangtuanya di Saketa.
Pada suatu hari di Saketa diadakan perayaan dan semua orang pergi ke sungai untuk mandi. Visakha, yang waktu itu berumur lima belas tahun, berdandan dan memakai baju yang bagus. ia ingin turut menyaksikan perayaan tersebut dan bersama kawan-kawannya ia pergi ke tepi sungai.
Tiba-tiba hujan besar turun dan semua gadis kawan Visakha berlari mencari tempat untuk berteduh di sebuah bangsal. Hanya Visakha yang tidak turut berlari dan jalan saja seperti biasa. Tiba di bangsal, bajunya basah kuyup.
Di bangsal itu juga turut berteduh beberapa orang suruhan Migara, seorang jutawan dari Savatthi, yang mencari seorang gadis untuk dinikahkan dengan anaknya, Panavaddhana. Mereka heran melihat Visakha dengan tenang berjalan memasuki bangsal, meskipun bajunya basah kuyup dengan air hujan. Mereka bertanya, “Mengapa engkau tadi tidak lari, sekarang bajumu basah kuyup.”
Visakha menjawab, “Aku punya banyak baju di rumah. Kalau aku lari, mungkin aku terjatuh dan cedera anggota tubuhku. Hal ini akan membawa kerugian besar bagiku. Gadis sepertiku dapat diumpamakan sebagai barang dagangan yang tidak boleh mempunyai cacat.”
Jawaban Visakha ternyata mengesankan sekali orang suruhan Migara. Tambahan lagi, Visakha memang seorang gadis cantik yang memiliki Lima Kecantikan (Panca-Kalyani).
Mereka segera menyerahkan sebuah karangan bunga sebagai tanda pinangan untuk menikah. Visakha menerima baik karangan bunga tersebut dan orang suruhan Migara mengikuti Visakha pulang ke rumah orangtuanya. Oleh kedua orangtuanya, pinangan ini pun diterima dengan baik.
Sekarang harus dibuat persiapan untuk merayakan pernikahan Visakha. Raja Pasenadi sendiri berkenan untuk ikut dengan rombongan yang menyertai mempelai laki-laki pergi ke Saketa. Di tempat itu mereka berdiam selama empat bulan. Selama waktu itu, lima ratus pandai emas bekerja siang dan malam untuk membuat perhiasan yang dinamakan Mahalatapasadhana. Perhiasan itu terbuat dari emas dan ditabur dengan berlian, mutiara dan batu-batu permata lainnya. Perhiasan ini berat sekali dan hanya bisa dipakai oleh orang yang tenaganya kuat.
Pada hari pernikahan, Dhanajaya membekali putrinya dengan lima ratus pedati penuh dengan uang, lima ratus pedati penuh dengan emas, perak, tembaga, kain sutra, mentega, beras dan kacang-kacangan masing-masing lima ratus pedati. Alat meluku dan alat pertanian lainnya lima ratus pedati, lima ratus kereta dengan membawa tiga orang budak wanita tiap-tiap kereta disertai segala keparluan mereka. Di samping itu, juga ternak yang memenuhi lapangan seluas tiga per empat “league” panjangnya dan delapan “cambuk” lebarnya, yang berdiri berhimpit-himpitan ditambah dengan enam puluh ribu sapi jantan dan enam puluh ribu sapi perah. Masih ditambah lagi dengan perhiasan Mahalatapasadhana yang mahal sekali dengan disertai sepuluh pesan yang harus ditaati oleh Visakha selama berada di rumah suaminya.
Sepuluh pesan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Api dari dalam rumah tidak boleh dibawa ke luar rumah.
2. Api dari luar rumah tidak boleh dibawa masuk ke dalam rumah.
3. Hanya memberi kepada orang yang memberi.
4. Tidak memberi kepada orang yang tidak memberi.
5. Memberi kepada orang yang memberi dan juga kepada orang yang tidak memberi.
6. Kalau duduk, duduklah dengan tenang dan bahagia.
7. Kalau makan, makanlah dengan tenang dan bahagia.
8. Kalau tidur, tidurlah dengan tenang dan bahagia.
9. Harus menjaga baik api di rumah.
10. Harus menghormat dewa-dewa di rumah.

Selanjutnya Dhanajaya mengangkat delapan orang kepala keluarga yang terhormat untuk menjadi wali Visakha dan meneliti tiap dakwaan yang kelak mungkin akan dituduhkan terhadap tingkah laku anaknya.
Keesokan harinya Visakha beserta rombongan berangkat menuju ke Savatthi. Semua penduduk Savatthi keluar dari rumahnya untuk menyambut kedatangan Visakha dan mempersembahkan aneka ragam hadiah. Semua hadiah diterima baik oleh Visakha untuk kemudian dibagi-bagikan lagi kepada penduduk Savatthi yang kurang mampu.
Migara (mertua Visakha) adalah pengikut para pertapa Nigantha, yaitu pertapa yang hidup bertelanjang bulat. Tidak lama setelah Visakha berada di rumahnya, Migara mengundang para pertapa Nigantha datang ke rumahnya dan memerintahkan Visakha untuk melayaninya dengan baik Tetapi Visakha, yang jijik melihat mereka bertelanjang bulat, menolak untuk memberi hormat. Para pertapa Nigantha mendesak Migara untuk mengirim pulang Visakha, tetapi Migara ingin menunggu saat yang tepat.
Pada suatu hari, ketika Migara sedang makan dan Visakha berdiri di sampingnya sambil mengipasnya, seorang bhikkhu datang untuk mengumpulkan makanan dan berdiri di depan pintu. Visakha minggir sedikit agar Migara dapat melihat bhikkhu tersebut, tetapi Migara tidak memperdulikannya dan terus saja makan. Visakha kemudian berkata kepada bhikkhu tersebut, “Jalan terus saja, Bhante, mertua saya sedang makan hidangan basi.”
Migara marah sekali dan mengancam untuk mengirim pulang Visakha ke rumah orangtuanya. Tetapi Visakha minta agar persoalan itu dibawa ke depan para walinya. Di hadapan para wali tersebut, Migara melontarkan beberapa dakwaan terhadap Visakha. Tetapi, setelah para wali meneliti dan mendengar segala keterangan dari yang bersangkutan dan para saksi, mereka berkesimpulan bahwa Visakha tidak bersalah.
Setelah itu, Visakha memberi perintah untuk membuat persiapan pulang ke rumah orangtuanya di Saketa. Tetapi kemudian Migara melihat kesalahannya dan merasa menyesal. Ia mohon maaf kepada Visakha dan permohonan ini diterima oleh Visakha dengan syarat, Migara harus mengundang Sang Buddha dan murid-Nya makan siang di rumahnya.
Waktu Sang Buddha dan para murid-Nya tiba, Migara lalu menyingkir pergi dan memerintahkan Visakha untuk melayani-Nya. Setelah selesai bersantap, Sang Buddha memberikan uraian Dhamma dan atas permintaan Visakha, Migara turut mendengarkan dari belakang tirai. Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Migara memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapana. Oleh karena itu ia memperoleh tingkat Sotapana atas jasa Visakha, maka mulai hari itu ia menghormat Visakha sebagai ibunya dan mulai hari itu Visakha memperoleh nama baru, yaitu :”Migaramata” yang berarti “Ibu Migara”.
Sekarang Visakha bebas untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan sebagaimana yang ia kehendaki. Setiap hari ia memberi makan kepada lima ratus orang bhikkhu.
Setiap sore ia datang ke vihara mengunjungi Sang Buddha dan setelah mendengarkan uraian Dhamma, pergi berkeliling dan mendatangi para bhikkhu dan bhikkhuni untuk menanyakan kebutuhannya.
Sewaktu-waktu ia diutus oleh Sang Buddha untuk mendamaikan perselisihan-perselisihan yang timbul di antara para bhikkhuni. Beberapa aturan, seperti aturan yang mengharuskan para bhikkhuni memakai “baju mandi” kalau mandi, dikeluarkan atas saran Visakha.
Suatu hari Visakha mengunjungi Sang Buddha dan sebelum memasuki vihara ia membuka perhiasan Mahalatapasadhana yang dipakainya. Waktu pulang, pelayannya lupa untuk membawanya. Belakangan, waktu Visakha kembali untuk mengambilnya ternyata bahwa Ananda telah menyimpannya di ruang dalam. Visakha menolak untuk mengambilnya kembali, tetapi memerintahkan untuk menjualnya dan hasilnya digunakan untuk keperluan para bhikkhu. Tetapi, ternyata tidak ada orang yang mampu membelinya karena perhiasan itu memang sangat mahal harganya. Karena itu Visakha mengambil keputusan untuk membelinya sendiri dan uangnya digunakan untuk membuat sebuah vihara yang disebut Migaramatupasada di taman sebelah timur (Pubbarama) Savatthi.
Selama dua puluh tahun terakhir dalam kehidupan Sang Buddha, kalau sedang berada di Savatthi, Beliau membagi waktu-Nya antara Jetavana dan Pubbarama, kalau siangnya berada di Jetavana, malamnya Beliau diam di Pubbarama atau sebaliknya.
Visakha mohon dan diberikan delapan “anugerah” oleh Sang Buddha, yaitu :
1. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberikan jubah kepada para bhikkhu yang selesai ber-vassa.
2. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada bhikkhu yang datang ke Savatthi.
3. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada para bhikkhu yang pergi dari Savatthi.
4. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada bhikkhu yang sakit.
5. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada mereka yang menjaga bhikkhu yang sakit.
6. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi obat kepada bhikkhu yang sakit.
7. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi beras untuk keperluan mendadak.
8. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi baju mandi kepada para bhikkhuni.

Visakha mempunyai sepuluh orang putra dan sepuluh orang putri, tiap putra dan putri kembali mempunyai dua puluh orang anak dan tiap cucunya kembali mempunyai dua puluh orang anak. Waktu Visakha meninggal dunia pada usia seratus dua puluh tahun, Beliau mempunyai delapan ribu empat ratus dua puluh orang anak, cucu, dan cicit yang semuanya hidup. Meskipun sudah berusia lanjut, tetapi roman mukanya masih seperti gadis berumur enam belas tahun.
Visakha sangat terkenal sebagai orang yang dapat membawa keberuntungan. Oleh karena itu, penduduk Savatthi selalu mengundang Visakha kalau mereka mengadakan pesta atau perayaan lain. Dengan sikapnya yang luhur, tingkah laku yang halus, ucapan yang ramah, menghormat kepada orang yang lebih tua dan kebaikan hatinya kepada semua orang, Visakha mendapat tempat yang mulia dalam hati mereka yang pernah mengenalnya.
Sebagaimana halnya dengan Anathapindika, Visakha pun mendapat gelar “Pemimpin dari para Dayika”. Dayika adalah seorang wanita yang menjadi penyokong Sang Buddha. Visakha diperkirakan lebih muda sedikit dari Anathapindika, karena adik perempuannya yang bungsu, Sujata, menikah dengan anak laki-laki dari Anathapindika, yaitu Kala.
Setelah meninggal dunia, Visakha bertumimbal lahir di surga Nimmanarati dan menjadi pelayan dari Raja Dewa Sunimmita.(Menurut Boddhaghosa, Visakha dan Anathapindika akan menikmati hidup bahagia di alam surga selama seratus tiga puluh satu kappa, sebelum akhirnya mereka mencapai Nibbana).

Anathapindika Penyokong Utama Buddha

Anathapindika dilahirkan di Savatthi. Ayahnya seorang jutawan yang bernama Sumana. Nama sebenarnya adalah Sudatta, tetapi karena kedermawannya dan selalu bersedia menolong orang yang melarat, maka ia diberi nama Anathapindika yang berarti “Pemberi makan orang yang melarat”. Istrinya bernama Punnalakkhana, kakak dari seorang jutawan di Rajagaha dan mempunyai seorang putra bernama Kala, serta tiga orang putri bernama Mahasubhadda, Culasubhadda, dan Sumana.
Pada suatu hari Sang Buddha tiba di hutan Sitavana dalam perjalanan dari Kapilavatthu ke Rajagaha. Di tempat inilah untuk pertama kali anathapindika bertemu dengan Sang Buddha, waktu Anathapindika berkunjung ke Rajagaha untuk urusan dagang. Di rumah kakak iparnya di Rajagaha, ia melihat bahwa jutawan dari Rajagaha ini sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk Sang Buddha dan para pengikut-Nya. Demikian mewahnya hidangan yang sedang disiapkan, sehingga ia berpikir barangkali ada pesta pernikahan atau mungkin untuk menerima kedatangan seorang Raja. Setelah diberitahu bahwa semua hidangan itu disiapkan untuk menerima kedatangan Sang Buddha, maka timbul hasrat dalam dirinya untuk mengunjungi Sang Buddha.
Ia bermaksud untuk mengunjungi Sang Buddha pagi-pagi sekali keesokan harinya. Memikirkan kunjungan ini membuat Anathapindika demikian tegang, sehingga malam itu ia terbangun sampai tiga kali dari tidurnya. Waktu ia berangkat ke Sitavana, hari masih gelap. Ketika hendak melintasi tanah pekuburan, hatinya merasa takut sekali sehingga ia menggigil. Tetapi kepercayaannya terhadap Sang Buddha demikian kuat, sehingga dari tubuhnya keluar cahaya yang menerangi jalan yang harus dilaluinya. Lagipula seorang makhluk halus (yakkha) bernama Sivaka yang baik hati memberi ia semangat, sehingga akhirnya tibalah Anathapandika di Sitavana. Pada waktu itu Sang Buddha sedang jalan hilir mudik sambil menghirup udara pagi hari yang segar.Sang Buddha menyapanya dengan memanggil nama pribadinya. Kemudian Sang Buddha memberikan uraian Dhamma yang membuat Anathapindika menjadi seorang Sotapanna.
Waktu mau pamitan pulang, Anathapindika mengundang Sang Buddha untuk keesokan harinya makan siang di rumahnya.
Setiba di rumahnya, Anathapindika sibuk mempersiapkan sendiri semua kebutuhan untuk keesokan harinya dan menolak tawaran kakak iparnya dan Raja Bimbisara yang ingin membantunya. Selesai makan siang yang ia layani sendiri, Anathapindika mengundang Sang Buddha untuk ber-vassa (istirahat musim hujan) di Savatthi. Sang Buddha menerimanya dengan mengatakan, “Para Tathagata, oh kepala keluarga, menyukai tempat yang sunyi.”
“Saya mengerti, oh Bhagava, saya mengerti, Sugata,” jawab Anathapindika.
Setelah menyelesaikan urusan dagangnya di Rajagaha, Anathapindika pulang ke Savatthi. Sepanjang jalan dari Rajagaha ke Savatthi, ia meninggalkan pesan kepada sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya agar menyiapkan tempat tinggal, taman-taman, rumah-rumah untuk istirahat dan hadiah-hadiah dalam rangka menyambut kunjungan Sang Buddha ke Savatthi.
Mengetahui bahwa Sang Buddha menerima tawaran untuk ber-vassa di Savatthi, maka setibanya di Savatthi, Anathapindika mencari sebidang tanah yang luas dan sunyi untuk membuat tempat tinggal bagi Sang Buddha dan para pengikut-Nya. Ia ingat kepada taman Pangeran Jeta yang memenuhi syarat yang dikemukakan Sang Buddha. Ia menghubungi Pangeran Jeta dan mengutarakan maksudnya untuk membeli tanah tersebut bagi tempat tinggal Sang Buddha dan para pengikut-Nya. Tetapi Pangeran Jeta menjawab bahwa tamannya tidak dijual, meskipun Anathapindika sanggup membayar sepuluh juta uang emas. Karena Anathapindika terus mendesak, maka akhirnya ia setuju menjual tamannya asalkan saja Anathapindika sanggup menutupi taman tersebut dengan uang emas.
Dengan tanpa pikir panjang, Anathapindika segera menyuruh pelayannya untuk mengeluarkan uang emas dari gudang hartanya dan menutupi taman dengan mata uang emas. Tetapi menjelang semua tanah akan tertutup dengan mata uang emas, tiba-tiba Pangeran Jeta datang dan meminta agar sisa tanah yang belum tertutup uang emas dianggap sebagai sumbangan Pangeran Jeta kepada Sang Buddha. Setelah itu Anathapindika memerintahkan untuk membuat sebuah vihara yang besar dan megah dengan biaya yang besar sekali.
Dikisahkan bahwa Sang Buddha berada di vihara Jetavanarama tersebut selama sembilan belas vassa, khususnya pada waktu Beliau sudah berusia lanjut dan vihara inilah Sang Buddha memberikan khotbah-Nya yang terbanyak.
Anathapindika dua kali sehari mengunjungi Sang Buddha dan sering membawa banyak sahabatnya. Kalau datang ia selalu membawa hadiah-hadiah untuk para bhikkhu muda dan samanera. Tetapi anehnya, ia sendiri tidak pernah menanyakan sesuatu karena khawatir membuah Sang Buddha lelah. Di pihak lain, Sang Buddha sendiri sering memberikan uraian Dhamma kepadanya.
Tiap hari Anathapindika memberi makan kepada seratus orang bhikkhu dan menyediakan juga makanan untuk para tamu, penduduk desa dan mereka yang kebetulan datang ke rumahnya. Lima ratus tempat duduk selalu siap di rumahnya untuk menerima siapa saja yang datang.
Seisi rumahnya berpegang teguh kepada Panca-Sila dan pada hari-hari Uposatha (tanggal 1,8, 14/15, 22/23 menurut penanggalan bulan) mereka berpuasa.
Pada waktu itu, ketika Sang Buddha sedang berkeliling, Anathapindika merasa sedih sekali karena tidak ada sesuatu yang dapat dipujanya. Oleh karena itu bersama-sama penduduk Savatthi lain ia minta kepada Ananda untuk membuat tempat di mana mereka dapat memuja dan memuliakan nama Sang Buddha. Atas saran Sang Buddha, satu cangkokan dari pohon Bodhi di Gaya ditanam di dekat pintu masuk Jetavanarama. Karena penanaman pohon ini dihadiri oleh Ananda, maka kemudian dikenal sebagai Anandabodhi.
Karena kedermawanannya, Anathapindika diberi gelar “Pemimpin para Dayaka”. Dayaka berarti penyokong Sang Buddha. Ketiga putrinya juga semua turut membantu ayahnya mengurus segala kebutuhan para bhikkhu. Putri pertama dan kedua telah mencapai tingkat kesucian Sotapana, menikah dan kemudian mengikuti suaminya. Putri yang ketiga memperoleh tingkat kesucian Sakadagami. Ia tidak menikah dan tinggal bersama-sama ayahnya.
Putranya semula tidak tertarik mendengarkan Dhamma, namun berkat dorongan ayahnya ia kemudian sering mendengarkan khotbah Sang Buddha dan mencapai tingkat kesucian Sotapana.
Anathapindika meninggal dunia sebelum Sang Buddha mangkat. Waktu ia sakit keras, ia mengirim pesan khusus kepada Sariputta, dan Sariputta datang menjenguknya bersama-sama Ananda. Pada waktu itu Sariputta memberikan uraian Dhamma dan selagi Anathapindika memusatkan pikirannya kepada perbuatan-perbuatannya yang baik dan mulia, seketika itu ia sembuh dari sakitnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan menyuguhkan kedua Thera tersebut dengan makanan dari pancinya sendiri.
Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia dengan tenang dan bertumimbal lahir di surga Tusita.
Reruntuhan dari Jetavanarama, di dekat Savatthi kini masih dapat dilihat di tempat yang bernama Sabet-mahet (Nepal Selatan).